Salah satu finalis dan pemenang lomba Indonesia Furniture Design Competition (IFDC) kedua, Suskariyanto menyebut tak melulu style menjadi fokus dalam berkarya. Ia justru menyebutkan faktor pricing, efisiensi dan kombinasi bahan mentah dan loadability di dalam petikemas harus juga dipertimbangkan masak-masak oleh seorang desainer.
Bagi laki-laki yang akrab disapa Ragil, “di Jepara, kebanyakan dari kami akrab menggunakan kayu jati sebagai bahan baku utamanya,” jelasnya. Setelah ia keluar dari kota ukiran itu dan bekerja di lain kota, barulah mengetahui bagaimana mengkombinasikan penggunaan bahan-bahan mentah.
Tujuannya, jelas agar mendapatkan efisiensi. Ini mengharuskannya untuk mengetahui secara pasti dimensi fisik minimal yang diaplikasikan. Ia mencontohkan galaran dari kayu jati untuk sebuah tempat tidur sudah cukup kuat hanya dengan ukuran 3x6. Namun untuk benda yang sama dari kayu mahoni harus lebih tebal lagi yaitu 4x6.
Masukan tentang efisiensi ini diperolehnya dari koleganya di bagian produksi dan marketing. Menurutnya, desainer seperti dirinya tidak mendapatkan informasi itu secara langsung tapi secara bertahap, dan merupakan bagian dari pengalaman kerja. Dari koleganya di produksi, ia juga bisa mengetahui dimensi fisik bahan baku yang tersedia di pasaran. Ini membuatnya memahami berapa dimensi fisik komponen mebel yang mampu menghasilkan kekuatan optimal, yang diperoleh tanpa memperpanjang mata rantai produksi.
Faktor pricing juga membuatnya memahami profil kastemernya. Kastemer yang end-user ‘lebih berani’ dalam urusan satu ini. Sedangkan buyer customer yang melakukan pembelian barang dalam jumlah besar untuk dijual lagi melalui jalur ritelnya, jelas sangat sensitif terhadap harga. Bukan mungkin pricing menjadi prioritas dalam skalanya. Itu sebabnya peningkatan efisiensi dan pemahaman akan kombinasi bahan mentah menjadi cara untuk mencapainya.
Faktor lainnya yang harus diperhatikan oleh desainer adalah loadability dalam sebuah peti kemas. Ini hanya bisa dicapai dengan cara distacking atau knock down selama pendistribusiannya. Hanya dengan cara ini, jumlah produk yang termuat dalam sebuah kontainer kianbanyak. Ia menunjuk pada gendhis chair yang merupakan karyanya. Dalam penyimpanannya kursi berukuran 60x60x85 bisa dimuatkan dalam kotak karton berukuran 65x95x10. Dengan ukuran sekompak itu, sebuah kontainer akan dapat memuat lebih banyak dibandingkan dalam keadaan terpasang. “Mungkin itu juga yang membuat karya ini menang dalam sebuah kompetisi desain furnitur,” ungkapnya.
Meurutnya, kursi gendhis merupakan revitalisasi dari kursi anyaman rotan yang berasal dari daerah Trangsang di Solo. “Saya mencoba mengangkat motif tradisional dengan mengkombinasikan anyaman rotan asal daerah Trangsang dengan style minimalis,” jelasnya. Pola anyaman 2,1 yang sangat tradisional dicoba untuk dikombinasikan dengan penggunaan kayu jati ukuran 3x4,5.
Kombinasi kedua bahan baku tidak pernah ada sebelumnya. Selama ini, akunya, anyaman rotan alam yang digunakan berukuran 3 centimeter. “Ukuran itu sudah susah diperoleh, dan saya coba kombinasi dengan kayu jati yangtidak pernah ada sebelumnya,” jelasnya. Ini dikombinasi dengan anyaman 2,1 yang biasanya dipakai untuk pinggiran. Jadinya sebuah kursi yang berhasil mengkombinasikan antara tradisional dan style minimalis. Terlihat ringan tapi tetap anggun.
Upaya mengangkat motif-motif tradisonal juga pernah dilakukan ketika ia mengikuti IFDC kedua. Kompetisi yang memberinya award melalui karya Kawung Coffe Table. Ia tak menolak ketika ditanyakan motif batik kawung sudah banyak digunakan dalam industri mebel. Namun ia berhasil mengkombinasikannya dengan sistem tambal-sulam dan geser yang tidak pernah ada sebelumnya. Kelebihan inilah yang kemudian membuat tak hanya juri, tapi juga pengunjung saat itu tertarik pada karya ini.


